HTI

Cover (Al Waie)

200_550_cover1

Pengantar [Mengembalikan Kemuliaan Panji Rasulullah saw. Al-Liwa’ dan Ar-Rayah]


200_200_cover1Assalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.

Pembaca yang budiman, tidak banyak umat Islam yang mengenal panji dan benderanya sendiri. Akibatnya, saat ada pihak-pihak—seperti Hizbut Tahrir—berusaha mengenalkan kembali bendera Islam yang notabene bendera milik seluruh kaum Muslim—ada yang bersikap heran, aneh bahkan nyinyir. Bahkan ada yang curiga dan mengaitkan bendera itu dengan terorisme. Buktinya, banyak kasus ‘bom teroris’ dikaitkan dengan ‘barang bukti’ berupa bendera Islam, yakni bendera tauhid. Ada pula yang menduga bendera yang tertulis padanya kalimat Lâ ilâha illâlLâh Muhammad rasûlulLâh itu adalah bendera Hizbut Tahrir, apalagi jika berwarna hitam atau putih.

Begitulah saat umat sudah terjauhkan dari sejarah dan politik Islam. Umat terlalu lama hidup di bawah naungan sistem sekular dengan konsep nasionalisme dan negara-bangsa (nation-state)-nya. Akibatnya, mereka hanya familiar dengan bendera nasionalisme atau negara bangsa (nation-state)-nya masing-masing. Padahal jauh sebelum era negara-bangsa (nation-state) yang sejatinya merupakan hasil rekayasa kafir penjajah, umat Islam hidup selama berabad-abad dalam satu kesatuan wilayah di bawah Khilafah dengan satu bendera atau satu panji. Itulah yang dikenal dengan al-Liwa’ (bendera hitam) dan ar-Rayah (bendera putih) bertuliskan Lâ ilâha illâlLâh Muhammad rasûlulLâh.

Karena itu bendera bercorak naionalis sebetulnya sesuatu yang baru bagi umat Islam. Bendera bercorak nasionalis itu baru muncul dan mencuat sejak keruntuhan Kekhilafahan Islam yang terakhir di Turki  tahun 1924, yakni sejak kaum kafir penjajah sukses memecah-belah dan mengerat-ngerat wilayah kekuasaan Khilafah—yang pernah menguasai hampir 2/3 belahan dunia—menjadi beberapa negara kecil bercorak nasionalis dengan benderanya yang juga bercorak sama.

Karena itu pula, Hizbut Tahrir berkepentingan untuk terus mensosialisaikan al-Liwa’ dan ar-Rayah kepada umat, terutama karena keduanya adalah bendera dan panji resmi Khilafah Islam. Harapannya, setiap kali umat melihat al-Liwa’ dan ar-Rayah, mereka ingat Khilafah. Saat mereka ingat Khilafah—lengkap dengan seluruh landasan kewajibannya, ragam kebaikannya serta sejarahnya yang gilang-gemilang pada masa lalu—mereka akan merindukan kembali Khilafah itu hadir di tengah-mereka. Pada gilirannya, mereka ikut bersama-sama Hizbut Tahrir berjuang untuk sesegera mungkin menegakkan kembali Khilafah ‘ala minhaj an-Nubuwwah.

Di seputar itulah tema utama al-waie kali ini, selain sejumlah tema menarik lainnya. Selamat membaca!

Wassalâmu‘alaikum wa rahmatullâhi wa barakâtuh.
200_550_cover1
 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>