Waspadalah dengan Kaum Kafir dan Lembaganya, Mereka Itu Serigala Berbulu Domba yang Terus Mengintai dan Memburu Mangsanya

BBC berbahasa Persia, pada 2 Maret 2022, melaporkan sebuah berita berjudul: “Dewan Keamanan PBB: Taliban Harus Mematuhi Tuntutan Rakyat dan Dunia”. Deborah Lyons, Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal dan Kepala Misi Bantuan PBB di Afghanistan (UNAMA), saat berpidato di pertemuan Dewan Keamanan PBB tentang Afghanistan menegaskan kembali bahwa situasi ke depan di Afghanistan tidak pasti, sehingga diperlukan roadmap dan mandat pengawasan agar Afghanistan dapat aktif kembali ke keluarga global. Perwakilan dari AS, Inggris, Prancis, dan negara-negara tetangga Afghanistan berbicara dalam pertemuan itu dan meminta pemerintah Taliban untuk mematuhi nilai-nilai global dalam mengatasi krisis kemanusiaan di negara itu (https://www.bbc.com/persian/afghanistan-60587292).


Pertama: Taliban dan kaum Muslim di seluruh dunia harus menyadari bahwa Dewan Keamanan PBB adalah lembaga para serigala yang bertujuan untuk berburu domba di seluruh dunia. PBB memang bertindak sebagai pengatur dan pembenar pendudukan Barat, terorisme, kejahatan, dan kolonialisme. Hampir semua negara Muslim, termasuk Afghanistan, yang menyaksikan invasi dari pendudukan kolonial, mendapat izin dari apa yang disebut Resolusi Dewan Keamanan PBB. Lalu, apa yang membuat kita merespon positif keinginan musuh, dan memerangi jutaan kaum Muslim?!

Kedua: Awal musim dingin ini, PBB secara terbuka menyatakan bahwa sebagian besar warga Afghanistan kelaparan, dan situasi di Afghanistan akan segera berubah menjadi bencana. Tetapi kita telah melihat bahwa musim dingin telah berlalu dan untungnya orang-orang tidak menghadapi situasi yang begitu sulit. Mereka mengklaim bahwa situasinya berbeda terutama karena bantuan dari komunitas internasional, sedang dalam kenyataannya bahwa sumbangan ini yang sampai pada masyarakat kurang dari 30%, sementara yang 70% tidak tepat sasaran karena dihabiskan untuk operasi administrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa, organisasi internasional, LSM lokal dan otoritas lokal.

Ketiga: Nilai-nilai yang sering dipromosikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai universal dan diperkuat melalui lusinan trik di dunia, padahal tidaklah demikian, melainkan nilai-nilai sekuler yang bertentangan dengan sifat manusia dan hukum-hukum Allah. Perserikatan Bangsa-Bangsa berbicara tentang prinsip, nilai, dan standar yang didasarkan pada gagasan bahwa Allah SWT tidak ikut campur dalam urusan manusia. Oleh karena itu, selamanya kaum Muslim tidak pernah diperbolehkan menerima nilai-nilai mereka yang tidak diizinkan oleh Allah SWT untuk dikerjakannya.

Keempat: Hampir enam bulan setelah Taliban merebut kekuasaan, mereka masih belum menerima baiat dari rakyat. Mereka menunda pelaksanaan perintah Allah SWT di dalam negeri, dan juga berhenti mengemban Islam ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad. Mereka tidak menyatakan bahwa konstitusi negara didasarkan pada Al-Qur’an, Al-Sunnah, Ijmak Sahabat, dan Qiyas. Mereka juga terus mengatur urusan rakyat dalam kerangka struktur sistem republik yang terdistorsi sebelumnya, dan terus menuntut untuk mendapatkan pengakuan dari negara-negara dan PBB. Sikap dan perbuatan Taliban yang demikian ini mendorong para kolonialis Barat untuk mengubah pendekatan mereka, ketika mereka mencoba untuk menghalangi Emirat Islam dari nilai-nilai dasar Islam, dengan menunjukkan kepada mereka pintu insentif dan dorongan untuk secara bertahap membuka jalan bagi emirat dengan asimilasi ke dalam sistem dunia saat ini sebagai negara-bangsa dengan sebutan Islam.

Untuk alasan ini, Deborah Lyons menyatakan bahwa setiap kerjasama dengan pejabat Emirat Islam yang tunduk pada jaminan pendidikan bagi semua anak perempuan dan laki-laki, hormat terhadap hak asasi manusia, mendukung pembentukan struktur politik yang inklusif untuk memastikan bahwa cerminan keprihatinan semua warga Afghanistan ada dalam proses pengambilan keputusan, serta mendukung dialog politik untuk melegitimasi pemerintah, juga memerangi narkoba dan terorisme. Lyons menambahkan bahwa kemajuan Emirat Islam sejauh ini memotivasinya untuk bekerja sama dengan otoritas de facto dan warga Afghanistan lainnya guna membuka jalan bagi pemerintah Afghanistan supaya bergabung dengan komunitas internasional.

Dengan demikian, negara Islam sejati tidak pernah sesuai dengan nilai-nilai universal saat ini, tidak boleh larut dalam sistem internasional saat ini atau memberi harapan kepada orang-orang kafir kolonial untuk mengubah perilaku mereka berdasarkan keinginannya, sebab Islam memiliki kemampuan untuk membangun negara melalui potensi-potensi  umat Islam dan solusi-solusi ideologis yang kokoh yang dengannya akan mengalahkan sistem global saat ini, dan memaksa banyak negara untuk berinteraksi dengannya, bukan dengan cara seperti yang dilakukan sistem global saat ini yang menelan sistem Islam.

Jika Emirat Islam Afganistan tidak memiliki yurisprudensi dan pendekatan seperti itu, maka Hizbut Tahrir, sebagai pemimpin pemikiran dan politik terbesar di dunia, telah sepenuhnya siap untuk menegakkan kembali Khilafah ‘ala minhājin nubuwah. Hizbut Tahrir tidak hanya siap untuk mempresentasikan konstitusinya, yang didasarkan hanya pada Islam, serta yurisprudensi sistem Islam: pemerintahan, ekonomi, keuangan, sosial masyarakat, peradilan, pendidikan, kebijakan luar negeri, dan lainnya kepada Emirat Islam, namun juga akan mengumpulkan semua potensi pemikiran dan politik dari seluruh bagian umat Islam agar bekerja sama dalam penerapan Islam dalam semua aspek kehidupan kita. Terakhir, kita sebagai kaum Muslim harus meyakini bahwa orang-orang kafir selalu kecewa dan putus asa untuk mengalahkan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, sehingga kita juga harus membuat orang-orang kafir melihat kekecewaan (kekalahan) mereka.

﴿الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِيناً﴾

Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (TQS. AL-Maidah [5] : 3). [Saifullah Mustanir]

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 9/3/2022.