Kunjungan Biden ke Timur Tengah dan File Nuklir

بسم الله الرحمن الرحيم

Jawab Soal

Kunjungan Biden ke Timur Tengah dan File Nuklir

 

Soal:

Presiden AS Joe Biden “Hari ini, Rabu” meninggalkan Washington, DC, menuju Timur Tengah dalam kunjungan resmi yang mencakup “Israel”, Tepi Barat, dan Arab Saudi… (Al-Arabiya.net, 13/07/2022). Al-Yawm as-Sabi’ telah melansir di situsnya pada 7/10/2022: “Presiden AS Joe Biden mengatakan bahwa dia akan melakukan perjalanan ke Timur Tengah pada minggu depan untuk memulai babak baru dan menjanjikan bagi peran Amerika di kawasan itu…”. Ash-Sharq al-Awsath telah menerbitkan di situsnya pada 7/05/2022: “Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengatakan bahwa Iran telah berulang kali mengajukan tuntutan dalam beberapa minggu dan bulan terakhir di luar kerangka perjanjian nuklir yang ditandatangani pada 2015 … Dia mengatakan bahwa tidak ada putaran lain dari pembicaraan yang direncanakan dengan Iran pada saat ini”, menurut kantor berita Reuters…”. Dan pertanyaannya sekarang adalah: Apakah ini berarti bahwa Amerika telah memalingkan punggungnya dari perjanjian nuklir? Lalu apa tujuan kunjungan Biden pada waktu ini? Apakah kunjungan ini ada hubungannya dengan perjanjian nuklir, atau bahwa tujuan kunjungan ini adalah untuk hal lain? Mungkinkah Iran menjadi kekuatan nuklir? Dan semoga Allah melimpahkan keberkahan kepada Anda dan melalui Anda dan semoga Allah memberi Anda pertolongan dan membuka kemenangan kepada Anda …

 

Jawab:

Pertanyaannya ada dua bagian: Pertama, tentang topik perjanjian nuklir dengan Iran. Dan kedua, tentang kunjungan Biden. Dan berikut ini jawabannya:

Pertama: perjanjian nuklir

1- File nuklir Iran dengan dimensi lokal, regional dan internasionalnya merupakan bagian penting dari politik Amerika terhadap Iran. Bahkan hal itu tumpang tindih dengan isu-isu lain menjadi memiliki dimensi regional dan internasional dalam strategi Amerika. Olehnya itu, Anda lihat Amerika sejak menandatangani kesepakatan tahun 2015 dan menolaknya pada tahun 2018 dan akhirnya negosiasi kembali lagi seperti yang terjadi hari ini, Anda lihat Amerika bergeser ke kanan dan kiri mengenai hal itu, menurut data baru dalam politiknya. Dengan melihat lebih dekat pada pandangan strategis Amerika Serikat untuk program nuklir Iran, kita menemukan bahwa politik Amerika lebih dekat kepada mengelola file ini daripada menyelesaikannya! Pandangan Amerika untuk file nuklir ini sama sekali tidak terlepas dari strategi regional Amerika di kawasan Islami dan internasional.

2- Hakikat objektif yang harus diakui adalah bahwa Iran, dalam sebagian besar politik luar negerinya, berkoordinasi di belakang layar dengan Amerika dan tidak keluar dari politik Amerika. Mungkin pendudukan Amerika terhadap Irak pada tahun 2003 menyingkap koordinasi ini secara besar, karena pengaruh Amerika dan Iran berjalan berdampingan di Irak. Kemudian, koalisi internasional yang dipimpin oleh Amerika melawan ISIS dan melakukan intervensi di Suriah tidak menyerang target yang bersifat Iran di Suriah dan tidak pula menarget milisi Iran. Jadi Amerika membiarkan mereka memerangi revolusi di Syam untuk membasmi revolusi. Dan Amerika, dengan pesawatnya, menyerang kaum revolusioner di Syam dengan dalih “terorisme”. Dan ini juga hanya dapat terjadi di antara negara-negara yang menyepakati pembagian peran. Peran Amerika dan Iran ditujukan untuk menjaga agen Amerika, Bashar Asad. Selain itu, pendudukan AS di Afghanistan juga menyingkap koordinasi AS-Iran. Dan beberapa pernyataan Iran menjelaskan preferensi Iran terhadap Amerika dalam memfasilitasi pendudukannya di Afghanistan!

3- Setelah berakhirnya perang Irak-Iran pada tahun 1988 dan munculnya Irak sebagai kekuatan militer yang besar, pada tahun 1989 Iran mulai membangun program rudal dan nuklirnya untuk menutupi apa yang menyerupai kekalahannya untuk perang dengan Irak.  Amerika telah secara resmi membantu Iran dalam penelitian nuklir sejak tahun lima puluhan. Dan penelitian itu berhenti setelah revolusi Khomeini, hanya saja diluncurkan pada tahun 1989. Dengan penghancuran pasukan Irak oleh tentara AS pada tahun 1990-1991 dan pengusiran Irak dari Kuwait dan pengenaan sanksi dan kampanye inspeksi terhadap Irak, maka arena secara regional telah kosong untuk menonjolkan kekuatan Iran. Politik Amerika pasca Perang Dingin adalah mencari musuh imajiner untuk membenarkan eksistensi Amerika di pangkalan-pangkalan militer di seluruh dunia setelah jatuhnya Uni Soviet. Maka Iran adalah alasan dan dalih bagi Amerika. Jadilah, Amerika menjustifikasi politiknya dengan bahaya Iran sampai bahwa Rusia memandang sangat aneh  dalih Amerika membangun instalasi perisai rudal Amerika di Polandia dan Rumania dengan dalih ancaman rudal Iran!

4- Begitulah, program nuklir Iran dan terburu-burunya Iran untuk memasang ribuan perangkat pengayaan uranium, hal itu membunyikan alarm bahaya di negara-negara besar Eropa dan juga di negara-negara Teluk. Dan dengan memeriksa lebih dekat, kami menemukan bahwa semua ini diperlukan untuk politik Amerika dilihat dari beberapa hal:

a- Menciptakan ancaman Iran untuk negara-negara Teluk yang merupakan sumber minyak untuk memungkinkan Amerika menawarkan perlindungan kepada para penguasanya. Presiden Trump pernah membual bahwa Amerika memberikan perlindungan kepada Arab Saudi dan menuntutnya untuk membayar uang dalam bentuk pemerasan dan mafia, dengan mengatakan bahwa (penguasa) Saudi tidak akan bertahan dua minggu tanpa perlindungan Amerika.

b- Di tingkat internasional, Amerika mulai memberlakukan pengepungan yang lebih strategis terhadap Rusia dan mendirikan perisai rudalnya di dekat perbatasan Rusia. Semua itu dengan dalih di antaranya melindungi negara-negara Eropa dari rudal Iran.

5- Dengan meningkatnya ketakutan Eropa, kekuatan internasional sejak 2006 mulai bernegosiasi dengan Iran, dengan harapan mengendalikan program nuklirnya di dalam kerangka damai daripada militer. Dan untuk tujuan ini, dibentuk kelompok 5+1, yaitu lima nuklir internasional + Jerman. Meskipun Amerika merupakan salah satu kekuatan internasional itu, namun negosiasi nuklir dengan Iran dilakukan oleh kekuatan internasional tanpa partisipasi langsung Amerika. Maknanya, negosiasi yang berlangsung selama 9 tahun (hingga 2015) itu Amerika tidak serius di dalamnya untuk membatasi program program nuklir Iran. Maka negara-negara Eropa, ditambah Rusia dan Cina, mengadakan sesi demi sesi dalam putaran negosiasi yang kosong. Negosiasi-negosiasi itu juga menjadi hal lain yang membantu menonjolkan kekuatan Iran dan menampakkan bahayanya.

6- Kemudian, perpecahan internal di Amerika sangat mempengaruhi program nuklir Iran. Pemerintahan Trump adalah periode di mana perpecahan Amerika mencapai titik berbahaya. Presiden Trump saat itu menyerang kebijakan pendahulunya, Obama mengenai program nuklir Iran. Di samping Amerika keluar dari perjanjian nuklir pada tahun 2018, Trump mengumumkan sanksi maksimum terhadap Iran dan membuka jalan bagi entitas Yahudi untuk lebih melemahkan Iran. Dan karena Trump berperilaku dengan arogansi “koboi”, Trump menghinakan Iran ketika Amerika membunuh Qassem Soleimani komandan Pasukan al-Quds dalam Garda Revolusi Iran pada awal Januari 2020. Dan karena pemerintahan Trump berada dalam keadaan yang sangat harmonis dengan entitas Yahudi yang dipimpin oleh Netanyahu, tidak dengan pemerintahan Demokrat Obama, entitas Yahudi telah bertindak terlalu jauh dalam menyerang target-target Iran, baik itu target nuklir langsung, seperti menyabotase stasiun Natanz, atau secara tidak langsung seperti entitas Yahudi mencuri dokumen nuklir sensitif dari Iran, selain beberapa pembunuhan ilmuwan dan pakar nuklir Iran…

7- Di sini, orang-orang Demokrat di Amerika, dan mereka berada di luar pemerintahan, menghubungi pilar-pilar rezim Iran, terutama Menteri Luar Negeri saat itu, Javad Zharif, dan memberi mereka harapan bahwa kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan presiden 2020 berarti kembalinya perjanjian nuklir. Dan ini adalah janji terbuka kandidat Demokrat, Biden sebelum dia menjadi presiden. Dan benar, Amerika pun kembali ke negosiasi nuklir dengan Iran tidak lama setelah Biden menduduki jabatannya di Amerika pada awal 2021. Hanya saja, negosiasi itu masih mandeg. Hal itu, karena kembalinya Amerika ke perjanjian nuklir dengan Iran bukan lagi tuntutan dari strategi Amerika, sebaliknya strategi Amerika menuntut penonjolan kembali ancaman Iran. Selain itu, perwakilan partai Republik di Kongres menuntut perjanjian baru dengan Iran. dipresentasikan untuk pemungutan suara di Kongres. Mereka mengancam untuk menolaknya sekali lagi ketika mereka kembali mendapatkan mayoritas di Kongres. Dan ini membingungkan proses negosiasi. Dan sekarang satu setengah tahun telah berlalu tanpa pemerintahan Biden dapat kembali ke perjanjian nuklir dengan Iran.

8- Kemudian perang di Ukraina membayangi masalah perjanjian nuklir. Pemerintahan Biden mengambil sendiri tanggungjawab untuk menjamin pasokan minyak ke Eropa sebagai alternatif dari Rusia. Dan ini adalah salah satu tuntutan kepemimpinan Amerika untuk Barat di dalam aliansi NATO. Jadilah pemerintahan Biden membalik filenya kepada pentingnya mengangkat sanksi-sanksi dari Iran dan mendorong perdagangan minyak Iran untuk pasar internasional. Demikian juga dengan Venezuela dan Arab Saudi. Dan berkaitan dengan Iran, ada desakan Amerika untuk segera mengikat perjanjian nuklir dengan Iran selama bulan Maret 2022. Artinya, tak lama setelah invasi Rusia ke Ukraina, dan pemerintahan Biden siap menanggapi permintaan Iran untuk menghapus Garda Revolusi dari daftar terorisme yang telah dimasukkan oleh mantan Presiden Trump. Maka kembalinya Amerika ke perjanjian nuklir tinggal selangkah lagi dari bab keadaan baru untuk politik Amerika setelah perang Ukraina. Tetapi ketika Rusia, yang menjadi bagian dari kelompok 5+1, mensyaratkan pengecualian hubungan perdagangannya dengan Iran dari sanksi-sanksi Barat terhadap Rusia, karena itu Amerika pun mundur kembali dari menandatangani perjanjian nuklir. Diperkirakan, jika Rusia tetap pada syarat-syaratnya, maka masalah perjanjian nuklir Iran akan terus melambat dalam beberapa bulan mendatang hingga akhir pemilihan paruh waktu untuk Kongres AS pada November 2022… Dapat diperhatikan bahwa Biden sekarang fokus lebih pada masalah pemilihan paruh waktu daripada pada perjanjian nuklir dengan Iran. …

Kedua: kunjungan Biden ke kawasan

1- Orang yang merenungkan kunjungan Biden ke kawasan tersebut dia melihat bahwa kunjungan itu merupakan pendahuluan untuk pemilihan paruh waktu untuk Kongres guna meningkatkan saham Biden dan partainya dalam pemilihan ini, bahkan meski kunjungan itu dibungkus pada lahirnya dengan tujuan lain! Biden berada dalam krisis internal dengan Partai Republik, terutama dalam dua hal yang mencolok: Pertama, adalah eksploitasi Partai Republik terhadap meningkatnya minat Biden terhadap perjanjian nuklir dengan Iran tanpa menggunakan tekanan dan lebih banyak sanksi, seperti yang dilakukan Trump. Dan kedua, adalah kurangnya perhatian Biden kepada peningkatan dan penguatan hubungan dengan entitas Yahudi, seperti yang dilakukan Trump. Karena dua hal ini memengaruhi pemilihan paruh waktu untuk Kongres, Biden telah mencoba untuk mengatasi dua masalah ini selama bulan-bulan tersisa untuk pemilihan paruh waktu pada November 2022:

- Penyelesaian perkara pertama adalah bahwa Biden menyampaikan kunjungan ini dengan pernyataan juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, yang dilaporkan oleh ash-Sharqu al-Awsath pada 5/7/2022: “…tidak ada putaran pembicaraan lain yang direncanakan dengan Iran pada saat ini…”. Ini selain pernyataan-pernyataan Biden yang mengandung banyak wajah perjanjian tersebut, yang mengarah pada penghentian putaran perjanjian nuklir, atau terjadinya perlambatan dengannya. Hal itu sampai setelah pemilihan paruh waktu, untuk mencegah Partai Republik mengeksploitasinya menentang Biden dan partainya…

- Kemudian Biden menyelesaikan perkara kedua dengan menyatakan dukungan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk entitas Yahudi dengan meloloskan paket dukungan terbesar dalam sejarah kepada Tel Aviv, diperkirakan lebih dari 4 miliar dolar… Ini selain percepatan normalisasi dengan negara Yahudi. Dan semua itu untuk memastikan pengaruh suara lobi Yahudi dalam pemilihan paruh waktu untuk kemenangannya, melebihi Trump dan partainya dalam hal dukungan kepada entitas Yahudi … Oleh karena itu, waktu yang dipilih untuk kunjungan Biden ke kawasan tersebut, terutama ke entitas Yahudi, adalah bulan ini, Juli 2022. Dan ditampakkannya dukungan untuk mereka, memberi Biden kartu pemilihan dari lobi itu… Ini di samping meningkatkan popularitas Biden dengan menunjukkan dukungan agen-agen dan pengikutnya di kawasan tersebut! terutama masalah energi dari Arab Saudi dan negara-negara Teluk. Dan ini meningkatkan saham elektoralnya. Dan hal itu ditegaskan dengan hal berikut:

a- “Gedung Putih mengatakan bahwa Presiden AS Joe Biden ingin menggunakan kunjungannya ke Timur Tengah -yang dimulai pada Rabu- untuk mengokohkan peran AS di kawasan yang semakin penting secara strategis. Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan -pada konferensi pers di Gedung Putih, Senin- memaparkan tujuan dari kunjungan ini, yang merupakan yang pertama bagi Biden dalam masa kepresidenannya, dan mencakup Israel, Palestina dan kemudian Arab Saudi, yang mana Biden akan bertemu dengan para pemimpin Dewan Kerjasama Teluk, Mesir, Yordania dan Irak. Mengenai file normalisasi, Sullivan menunjuk pada keinginan pemerintah AS untuk memperkokoh apa yang disebutnya jalan perbaikan hubungan antara Israel dan lebih banyak negara Arab, seraya mengatakan bahwa normalisasi apapun dinilai positif.

Biden telah menyeru negara-negara Teluk untuk meningkatkan produksi minyak, mengingat harga tinggi di atas level $100 per barel; satu hal yang berkontribusi pada tingkat inflasi yang tinggi, di tengah adanya kekhawatiran global tentang energi dan ketahanan pangan, dengan berlanjutnya perang Rusia di Ukraina (Al-Jazeera, 11/7/2022).

b- Al-Jazeera melansir di situsnya pada 10/7/2022 sebuah artikel di Washington Post: “… Presiden AS Joe Biden mengatakan bahwa dia akan melakukan perjalanan ke Timur Tengah minggu depan untuk memulai babak baru dan menjanjikan bagi peran Amerika di kawasan itu… Dalam artikel yang diterbitkan oleh Washington Post, Presiden Amerika mengatakan bahwa pertemuan para pemimpin kawasan di Jeddah, Arab Saudi, akan menjadi indikasi bagi kemungkinan Timur Tengah yang lebih stabil, menurut ungkapannya… Dia mengindikasikan bahwa dia akan menjadi presiden Amerika pertama yang melakukan perjalanan dari Israel ke Jeddah… Berkaitan dengan hubungan dengan Israel, Biden mengindikasikan bahwa pemerintahannya telah meloloskan paket dukungan terbesar dalam sejarah untuk Tel Aviv, diperkirakan lebih dari 4 miliar dolar. …”.

c- Ash-Sharq al-Awsath menerbitkan di situsnya pada 5/7/2022: “Washington: “Ash-Sharq al-Awsath online” Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Ned Price, mengatakan hari ini (Selasa) bahwa Iran dalam beberapa minggu dan bulan terakhir telah berulang kali mengajukan tuntutan di luar kerangka perjanjian nuklir 2015. Price menambahkan bahwa tuntutan baru itu menunjukkan kurangnya keseriusan di pihak Teheran. Di Doha pada pekan lalu, pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Washington, yang bertujuan untuk memecahkan kebuntuan tentang cara menyelamatkan kesepakatan nuklir, telah berakhir tanpa kemajuan yang diharapkan. Price mengatakan bahwa tidak ada putaran pembicaraan lain yang direncanakan dengan Iran saat ini, menurut kantor berita “Reuters”.

d- Dan dinyatakan di al-Yawm as-Sabi’ pada 5/5/2022: “Beberapa tantangan dihadapi oleh Presiden AS Joe Biden dan Partai Demokrat seiring makin dekatnya pemilihan paruh waktu untuk Kongres, yang datang setelah krisis berturut-turut yang menimpa pemerintahan Amerika, yang gagal selama hampir tiga bulan untuk mencegah Rusia melanjutkan perangnya di dalam wilayah Ukraina, meski ada serangkaian sanksi ekonomi berturut-turut yang dijatuhkannya terhadap Moskow, dan efek global yang menyertainya terhadap indikator inflasi dan goyahnya pasokan energi, yang mendorong Federal Reserve AS untuk menaikkan suku bunga sebesar 0,5% dalam peningkatan terbesar selama 22 tahun terakhir. Menurut para analis dan media Amerika, pemilihan paruh waktu menjadi seperti referendum atas kepresidenan Biden dalam dua tahun pertamanya di pemerintahan…”.

Begitulah, tujuan utama kunjungan Biden ke kawasan Timur Tengah pada waktu sekarang ini, yakni menjelang pemilihan paruh waktu, tujuan ini seperti yang kami sebutkan di awal: “Orang yang merenungkan kunjungan Biden ke kawasan tersebut dia melihat bahwa kunjungan itu merupakan pendahuluan untuk pemilihan paruh waktu untuk Kongres guna meningkatkan saham Biden dan partainya dalam pemilihan ini, bahkan meski kunjungan itu dibungkus pada lahirnya dengan tujuan lain”!

Ketiga: pada penutup, kami tegaskan dua perkara berikut:

1- Negara-negara yang disebut negara-negara besar ini diselusupi oleh kerapuhan yang terkadang mengarah pada konflik yang memanas di antara partainya dan komponen penyusun mereka… Tapi, dan ini menyakitkan, mereka menemukan solusi untuk masalah mereka di negeri kita dan dengan biaya kita! Biden mengunjungi negeri kita, bertolak dari orang yang paling memusuhi kita, entitas Yahudi yang melakukan pendudukan tanah kita yang diberkati di Palestina, dan kemudian pindah langsung ke tanah Hijaz, di mana para penguasanya akan menerimanya dengan patuh dan sukacita. Biden mengindiksikan bahwa dia akan menjadi presiden Amerika pertama yang melakukan perjalanan dari “Israel” ke Jeddah. …dan memberi negara Yahudi paket dukungan terbesar dalam sejarah…”. Namun, para penguasa keluarga Saud tidak merasa malu, bahkan rasa malu mereka telah hilang! Biden kemudian bertemu dengan para penguasa negara-negara Teluk untuk membahas peningkatan produksi energi guna mengurangi inflasi di Amerika. Dan kemudian ia bertemu dengan kelompok ini dengan para penguasa rezim Mesir, Irak, dan Yordania serta otoritas Palestina untuk membahas file normalisasi, dengan mengatakan “normalisasi apapun dianggap hal positif” … Begitulah, Biden menginginkan untuk mereka normalisasi, daripada jihad untuk menghapus entitas Yahudi! Dan kemudian para penguasa itu berjabat tangan memuji Biden tanpa takut kepada Allah, Rasul-Nya dan kaum Mukmin! Alih-alih Amerika dan entitas Yahudi menjadi:

﴿هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?” (TQS al-Munafiqun [63]: 4).

Alih-alih demikian, sebaliknya para penguasa menormalisasi hubungan dengan keduanya, dan tunduk kepada keduanya!

2- Adapun apa yang ada di akhir pertanyaan, “Mungkinkah Iran menjadi kekuatan nuklir?”, maka benar Iran mungkin saja jika tidak mengkoordinasikan politik luar negerinya, seperti yang telah dijelaskan, dengan Amerika, dan berikutnya akan menjadi kekuatan yang signifikan.. Tetapi Iran mengikatkan dirinya sendiri dengan politik Amerika untuk beredar di orbit Amerika. Hal itu menjadikan Iran tidak bisa menjadi kekuatan nuklir. Dan Iran terus melakukan hal itu karena elit penguasanya telah melanjutkan keterikatannya pada politik Amerika dan tidak memutuskannya sama sekali. Alih-alih mengendalikan perjanjian nuklir, Iran justru menghubungkan perjanjian nuklir dengan pembicaraan Wina, yaitu menghubungkannya dengan persetujuan Amerika: “Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, mengatakan dalam konferensi pers, “Jika kesepakatan dicapai di Wina besok, semua langkah-langkah yang telah diambil Iran secara teknis dapat kembali lagi” (The Independent Arabic, 13/6/2022). Oleh karena itu, perubahan mendasar di Iran dijauhkan kemungkinannya akan terjadi, kecuali Iran berhukum kepada Islam dalam politik dalam dan luar negerinya, dan memutuskan hubungannya dengan Amerika sepenuhnya yang tidak dapat diubah setelahnya… Kami mengatakan ini dan kami mengesampingkan kemungkinan terjadinya hal itu dari para politisi Iran saat ini. Tetapi:

﴿مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa” (TQS al-A’raf [7]: 164).

 

15 Dzul Hijjah 1443 H

14 Juli 2022 M

 

https://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer/political-questions/83158.html